Senin, 30 Agustus 2010

Tersenyum

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru
saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah
Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya
harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama
"Tersenyum"

Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga
orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah
bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan
"hello", jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tersebut, suami saya, anak bungsu
saya, dan saya pergi ke restoran McDonald's pada suatu pagi di bulan Maret
yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami membagi waktu
bermain yang khusus dengan anak kami. Kami berdiri dalam antrian,
menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai
menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.

Saya tidak bergerak sama sekali .... suatu perasaan panik menguasai
diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua
menyingkir.

Ketika saya berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang
sangatm menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat
dengan saya, ia sedang "tersenyum".

Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia
minta untuk dapat diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa
koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan
gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan
lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika
berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan.

Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka
beli. (jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh
mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).

Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat
sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata
biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua
mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk
memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian
saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki
itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja
dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu. Ia
melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih."

Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya
tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk
memberimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung
dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum
kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu
kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan."

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami
tahu bahwa hanya karena Rahmat Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami
berikan untuk orang lain.

Kami bukanlah orang-orang yang rajin ke gereja, tetapi kami adalah
orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Hari itu menunjukkan kepadaku
cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini
di tangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya membacanya.

Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan
ceritamu kepada yang lain?"

Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas.
Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan
bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk
disembuhkan.

Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di
McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri
ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu
pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: MENERIMA TANPA BERSYARAT.

Selasa, 24 Agustus 2010

Hari ini adalah istimewa

Sahabatku membuka laci tempat istrinya
menyimpan pakaian dalam
dan membuka sebuah bungkusan berbahan sutra.

"Ini, ......", dia berkata, "Bukan bungkusan yang
asing lagi".

Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian
dalam sutra serta kotaknya.

"Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami
pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak
pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena menurut dia,
hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa."

Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan
bungkusan hadiah di dekat pakaian yang dia pakai
ketika pergi ke pemakaman.

Istrinya baru saja meninggal...

Dia menoleh padaku dan berkata :

"JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU
UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA,
SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH
KESEMPATAN YANG ISTIMEWA !"

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya
mengubah hidupku.
Sekarang aku lebih banyak membaca dan
mengurangi bersih-bersih.
Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun.
Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama
keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti
bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber
pengalaman supaya bisa hidup,
tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan
hidup) saja.

Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.
Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari.
Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke
Supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak
menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa,
aku menggunakannya kemanapun aku
menginginkannya.

Kata-kata "Suatu hari ." dan Satu saat nanti....."
sudah lenyap dari kamusku.

Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan
sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat,
mendengar atau melakukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri
temanku itu apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi
berikutnya, ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.

Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon
rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali
juga dia menelpon teman lama untuk berdamai atas
perselisihan yang pernah mereka lakukan.
Aku juga berpikir bahwa dia mungkin pergi makan
Martabak Spesial, makanan favoritnya.

Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan
aku sesali jika tak aku lakukan,
jikalau aku tahu waktuku sudah dekat.

Aku akan menyesalinya, karena aku tidak akan
lebih lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui,
juga surat-surat yang ingin aku tulis "Suatu hari
nanti".

Aku akan menyesal ! dan merasa sedih,
karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku
mencintai orangtuaku,
saudara-saudaraku dan teman2ku.

Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau
menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa
membuatku menikmati hidup.
Dan, setiap pagi, aku berkata kepada diriku sendiri
bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah
istimewa.


Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena
seseorang peduli padamu,
dan karena mungkin ada seseorang yang kamu
pedulikan.

Jika kamu terlalu sibuk untuk mengirimkan pesan
ini kepada orang lain dan kamu
berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan
mengirimkannya "Suatu saat nanti", ingatlah
bahwa "Suatu saat" itu sangat jauh ...
Dan mungkin tidak akan pernah datang ...

Rabu, 18 Agustus 2010

Kisah Anne

Kisah berikut ini dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women"
karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku
Gramedia, maupun toko buku lainnya.

Inti ceritanya kira-kira sbb :

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja.

Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka...

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...

=============
Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

1. SESUNGGUHYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun
bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang telah
kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2
penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang
bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai
bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal,
maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".

"Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan,PELANGGAN,serta siapa saja yang Anda temui."

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek / tidak peduli / tidak mengerti kisah ini.
KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.
KETIGA,tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang tentang hidupnya.
KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar "Hidup" menjadi "Hidup Yang Lebih Bermakna". Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.

Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i,Suami/Istri, Anak2 Anda, dst)

Senin, 16 Agustus 2010

Hati Seekor Tikus

Seekor tikus merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada
kucing. Ia lalu menemui seorang penyihir sakti untuk meminta tolong. Penyihir
memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing.

Namun setelah menjadi kucing, kini ia begitu ketakutan pada anjing.
Kembali ia menemui penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor
anjing.

Tak lama setelah menjadi anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada
singa. Sekali lagi penyihir sakti memenuhi keinginannya dan mengubahnya
menjadi seekor singa.

Apa yang terjadi? Kini ia sangat ketakutan pada pemburu. Ia
mendatangi lagi si penyihir sakti meminta agar diubah menjadi pemburu. Kali ini si
penyihir sakti menolak keinginan itu sambil berkata,
"Selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimana pun bentukmu,
kau tetaplah seekor tikus yang pengecut"

Ya..! Kita adalah apa yang ada di dalam hati kita. Bentuk luar,
tingkah laku, dan lain-lain hanyalah tempelan yang dapat menyembunyikan "kita"
yang sejati.

Jumat, 13 Agustus 2010

Di Balik Cermin

Ketika saya masih kecil, kami tinggal di kota New York, hanya satu blok
dari rumah kakek-nenek saya. Setiap malam, kakek saya selalu melakukan
"kewajibannya," dan di setiap musim panas, saya selalu ikut dengannya.

Pada suatu malam, ketika Grandpa (kakek) dan saya sedang jalan kaki
bersama, saya menanyakan apa bedanya keadaan sekarang dengan dulu, ketika
dia masih kecil di tahun 1964. Grandpa bercerita tentang jamban-jamban
di luar rumah, bukan toilet mengkilap, kuda- kuda, bukan mobil,
surat-surat, bukan telepon, dan lilin-lilin, bukan lampu-lampu listrik.

Sementara dia menceritakan semua hal-hal indah yang sama sekali tidak
pernah terbayang di kepala saya, hati kecil saya mulai penasaran. Lalu
saya tanyakan kepadanya,"Grandpa, apa hal paling susah yang pernah
terjadi dalam hidupmu?"

Grandpa berhenti melangkah, memandang cakrawala, dan membisu beberapa
saat. Lalu dia berlutut, menggenggam tangan saya, dan dengan air mata
berlinang dia mengatakan: "Ketika ibumu dan adik-adiknya masih
kecil-kecil, Grandma (nenek) sakit parah dan untuk bisa sembuh, dia harus di
rawat di satu tempat yang namanya sanatorium, untuk waktu yang lama sekali.

Tidak ada orang yang bisa merawat ibu dan paman-pamanmu kalau aku
sedang pergi kerja, jadi mereka kutitipkan di panti asuhan. Para biarawati
yang membantuku mengurusi mereka, sementara aku harus melakukan dua atau
tiga pekerjaan untuk bisa mengumpulkan uang, agar Grandma bisa sembuh
dan semua orang bisa berkumpul lagi di rumah."

"Yang paling sulit dalam hidupku adalah, aku harus menaruh mereka di
panti asuhan. Setiap minggu aku mengunjungi mereka, tetapi para biarawati
itu tidak pernah mengijinkan aku mengobrol dengan mereka, atau memeluk
mereka. Aku hanya bisa memperhatikan mereka bermain dari balik sebuah
cermin satu arah. Aku selalu membawakan permen setiap minggu, berharap
mereka tahu itu pemberianku. Aku hanya bisa menaruh kedua tanganku di
atas cermin itu selama tiga puluh menit penuh, waktu yang mereka ijinkan
untuk aku melihat anak- anakku, berharap mereka akan datang dan
menyentuh tanganku. "

"Satu tahun penuh kulalui tanpa menyentuh anak-anakku. Aku sangat
merindukan mereka. Tetapi aku juga tahu bahwa itulah tahun yang lebih sulit
lagi bagi mereka. Aku tidak pernah bisa memaafkan diriku sendiri karena
tidak bisa memaksa biarawati itu mengijinkan aku memeluk anak-anakku.
Tetapi kata mereka, kalau diijinkan, itu malah akan lebih memperburuk
keadaan, bukan memperbaikinya, dan mereka akan menjadi lebih sulit
tinggal di panti asuhan itu. Jadi aku menurut saja."

Saya tidak pernah melihat Grandpa menangis. Dia memeluk saya erat-erat
dan saya katakan kepadanya bahwa saya memiliki Grandpa terbaik di
seluruh dunia dan saya sangat menyayanginya.

Lima belas tahun berlalu, dan saya tidak pernah menceritakan acara
jalan-jalan istimewa dengan Grandpa itu kepada siapapun. Dari tahun ke
tahun kami tetap rajin jalan-jalan, sampai keluarga saya dan kakek-nenek
saya pindah ke negara bagian yang berbeda.

Setelah nenek saya meninggal dunia, kakek saya mengalami penurunan
ingatan dan saya yakin itulah periode penuh tekanan baginya. Saya memohon
kepada ibu saya untuk memperbolehkan Grandpa tinggal bersama kami,
tetapi ibu saya menolaknya.

Saya terus merengek, "Ini kan sudah kewajiban kita sebagai keluarga
untuk memikirkan apa yang terbaik baginya."

Dengan sedikit marah, ibu membentak, "Kenapa? Dia sendiri sama sekali
tidak pernah perduli pada apa yang terjadi terhadap kami, anak-anaknya!"

Saya tahu apa yang ibu maksud. "Dia selalu memperhatikan dan menyayangi
kalian," kata saya.

Ibu saya menjawab," Kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan!"

"Hal tersulit baginya adalah harus menaruh ibu dan paman Eddie dan
paman Kevin di panti asuhan."

"Siapa yang cerita begitu padamu?" tanyanya.

Ibu saya sama sekali tidak pernah membicarakan masa-masa itu kepada kami.

"Mom, dia selalu datang ke tempat itu setiap minggu untuk mengunjungi
anak-anaknya. Dia selalu memperhatikan kalian bermain dari belakang
cermin satu arah itu. Dia selalu membawakan permen setiap kali dia datang.
Dia tidak pernah absen setiap minggu. Dia benci tidak bisa memeluk
kalian selama satu tahun itu!"

"Kau bohong! Dia tidak pernah datang. Tidak pernah ada yang datang
menjenguk kami."

"Lalu bagaimana aku bisa tahu soal kunjungan itu kalau bukan dia yang
cerita ? Bagaimana aku bisa tahu oleh-oleh yang dibawanya? Dia
benar-benar datang. Dia selalu datang. Para biarawati itulah yang tidak pernah
mengijinkan dia menemui kalian, karena kata mereka, akan terlalu sulit
bagi anak-anak kalau melihat ayahnya sudah harus pergi lagi. Mom,
Grandpa menyayangimu, dan selalu begitu!"

Grandpa selalu beranggapan anak-anaknya tahu dia berdiri dibalik cermin
satu arah itu, tetapi karena mereka tidak pernah merasakan kehangatan
dan kekuatan pelukannya, dia pikir mereka telah melupakan
kunjungan-kunjungannya. Sementara, ibu saya dan adik- adiknya beranggapan dia tidak
pernah datang mengunjungi mereka.

Setelah saya menceritakan kebenaran itu kepada ibu saya, hubungannya
dengan Grandpa mulai berubah. Dia menyadari bahwa ayahnya selalu
menyayanginya, dan akhirnya Grandpa tinggal bersama kami sampai akhir hidupnya.

LAURA REILLY

10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai

Ketulusan Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Kerendahan Hati Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder. 
Kesetiaan Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat. 
Positive Thinking Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya. 
Keceriaan Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain. 
Bertanggung jawab Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya. 
Percaya Diri Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik. 
Kebesaran Jiwa Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan. 
Easy Going Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah- masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya. 
Empati Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.